Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam

Muhammadiyah dalam pengertian secara bahasa maupun istilah sudah pasti menunjukkan jati diri sebagai organisasi Islam. Tanpa perlu diteliti lebih jauh pun, orang akan tahu hal tersebut. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam itu yang seperti apa? Jika dijawab maka tampaklah identitas Muhammadiyah sesungguhnya. Paparan kali ini, akan melihat identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dalam perspektif yang mungkin agak berbeda dari uraian-uraian yang telah ada. 
Pangkal tolak untuk menjawab pertanyan di atas : "Muhammadiyah sebagai gerakan Islam itu yang seperti apa?" adalah dari arti kata Muhammadiyah itu sendiri secara bahasa. Kata Muhammad+iyah yang jika diurai dari kata Muhammadiyah, mengandung arti pengikut Muhammad (Nabi Muhammad SAW). Maka jawaban dari pertanyaan tersebut adalah gerakan Islam yang seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi keislaman seperti yang diterapkan/dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW itulah yang menjadi identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. 
Jika dilanjutkan, tentu ada pertanyaan kritis, banyak aspek yang bisa dicontoh dari kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang mana jadi acuan oleh Muhammadiyah? Secara general tentu semua aspek dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW sangat layak dicontoh oleh umatnya. Namun secara riil ada dua aspek pokok yang berbeda bisa dicontoh dari kehidupan Nabi SAW yaitu dari aspek ibadah madloh dan muamalah . Kedua aspek tersebut di Muhammadiyah diamalkan dengan dua prinsip yang berbeda, untuk urusan ibadah mahdloh dijalankan prinsip "semua jenis ibadah haram kecuali ada perintahnya". Prinsip ini mengandung pengertian bahwa untuk perkara-perkara teknis ibadah mahdloh seperti sholat, zakat, puasa, haji dan sejenisnya yang meliputi syarat, rukun dan tertibnya ibadah tidak ada pengurangan serta penambahan sama sekali. Tidak ada pembaharuan dalam urusan syarat, rukun dan tertibnya ibadah mahdloh, semua dilaksanakan berdasarkan perintah yang sudah ada dalam Al Qur'an dan sunnah kecuali untuk ibadah-ibadah mahdloh dalam kondisi khusus karena perkembangan zaman dan dulu pada zaman Rosululloh SAW belum mungkin berlaku maka dibutuhkan ijtihad. Contoh sholat dan puasa Ramadhan didaerah seputar kutub utara/selatan yang secara waktu kadang mengalami siang/malam terus menerus selama beberapa bulan, ini dibutuhkan ijtihad karena termasuk hal baru.  
Prinsip yang kedua dalam urusan muamalah adalah "semua hal boleh dilaksanakan kecuali ada larangannya". Secara muamalah atau aspek sosial kemasyarakatan banyak hal bisa dicontoh dari kehidupan Nabi Muhamamd SAW, namun secara teknisnya tentu ada hal-hal yang harus berubah, tidak bisa dilakukan persis seperti laku Beliau karena perkembangan zaman dan peradaban manusia dengan kebutuhan yang berbeda dari zaman ke zaman menuntut perwujudan teknis yang berbeda. Bahkan untuk perkara-perkara yang masih berkaitan dengan ibadah, ada hal yang secara teknis sudah sangat jauh berbeda dari yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Contoh simpel adalah adzan, sekarang dikumandangkan dengan perlengkapan pengeras suara dan bisa menjangkau kawasan yang cukup luas, satu hal yang tentu tidak dilakukan pada zaman Nabi SAW, banyak contoh lain yang menyangkut perkara-perkara pelengkap dalam ibadah apalagi menyangkut perkara-perkara sosial tentu jauh berbeda.
Mengapa Muhammadiyah didirikan untuk memperjuangkan Islam sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah Nabi SAW? Yang jarang diketahui oleh masyarakat bahwa Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai hasil pendalamannya terhadap ayat-ayat Al Qur'an dan kandungannya. Pendalaman tersebut menghasilkan ide-ide untuk melaksanakan dalam praktek nyata ajaran-ajaran Al Qur'an. Maka yang muncul saat itu adalah ide-ide KH. Ahmad Dahlan yang dianggap aneh bahkan gila.
Contoh pertama adalah ide mendirikan organisasi Islam Muhammadiyah adalah pendalaman terhadap surat Ali Imron ayat 104. KH. Ahmad Dahlan menerjemahkan perintah untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan berkelompok, membentuk organisasi. Ini tentu tidak sejalan dengan budaya primordialisme muslim di Jawa saat itu yang sangat mengagungkan ketokohan seseorang terutama kyai dan bangsawan sebagai orang-orang yang menjadi rujukan dalam menyelesaikan masalah. KH. Ahmad Dahlan mengajak orang-orang disekitarnya untuk peduli pada permasalahan umat dan mengatasinya melalui jalur organisasi. Orang-orang yang diajak berorganisasi di Muhammadiyah saat itu adalah anak-anak muda kerabatnya di kampung Kauman yang notabene belum menjadi tokoh masyarakat. Dengan demikian KH. Ahmad Dahlan ingin membukakan pandangan masyarakat saat itu bahwa di sekitar mereka ada masalah-masalah sosial, dan mereka sendiri bisa menyelesaikan masalah-masalah tersebut tanpa tergantung pada satu tokoh sentral.
Ide-ide KH. Ahmad Dahlan lain yaitu mengubah arah kiblat, mendirikan madrasah dengan memasukkan ilmu-ilmu umum dan menggunakan cara-cara moderen dalam pembelajaran, menyantuni kaum miskin dan yatim piatu, semua itu dianggap sebagai ide-ide gila oleh masyarakat pada zamannya. KH. Ahmad Dahlan mengajak mengaji Al Qur'an tidak sekedar membaca dan hafal bacaannya saja tapi mengajak umat untuk langsung mengamalkan kandungan Al Qur'an. Inilah yang diartikan sebagai gerakan Islam oleh KH. Ahmad Dahlan. Islam yang menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi umat, bukan sekedar agama yang dihapal ayat-ayatnya saja tanpa mengerti maknanya.

Kepribadian Muhammadiyah

A. Latar Belakang

Kepribadian Muhammadiyah adalah rumusan yang menggambarkan hakekat Muhammadiyah, apa yang menjadi dasar, pedoman amal usaha dan perjuangan Muhammadiyah serta sifat-sifat yang dimilikinya. Kepribadian Muhammadiyah disahkan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-35 pada tahun 1962 di Jakarta atau yang disebut dengan Muktamar Setengah Abad. 
Munculnya gagasan merumuskan Kepribadian Muhammadiyah diawali dari pidato KH. Faqih Usman yang menyampaikan ceramah dengan judul "Apakah Muhammadiyah itu?" Keadaan saat itu memang diperlukan penegasan identitas organisasi untuk menjadi pegangan bagi warga Persyarikatan dalam menghadapi situasi yang tidak menentu. Keadaan tersebut terkait dengan situasi politik kenegaraan dan sosial kemasyarakatan Indonesia yang tidak menentu karena Konstituante sebagai lembaga legislatif saat itu gagal merumuskan dasar negara kesatuan Republik Indonesia. Akibat kegagalan tersebut, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang intinya memutuskan untuk dasar negara kembali kepada UUD 1945 dan pemerintahan dilaksanakan dengan Demokrasi Terpimpin yang berarti demokrasi yang dipimpin dengan Pancasila dan UUD 1945.
Jika melihat bahwa demokrasi terpimpin berarti dipimpin dengan Pancasila dan UUD 1945, maka bisa diduga sekilas bahwa demokrasi yang diterapkan akan seperti harapan rakyat Indonesia. Namun dalam kenyataannya, karena saat itu dalam sistem kepartaian ada Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mempunyai ambisi besar melaksanakan revolusi rakyat, pelaksanaan demokrasi terpimpin pelan-pelan digeser menjadi demokrasi yang dipimpin oleh Pemimpin Besar Revolusi/Panglima Tertinggi ABRI yaitu Presiden Sukarno. PKI mendorong presiden Sukarno untuk semakin berkuasa dan berlindung dibawah nama besarnya untuk menyingkirkan semua pihak yang dianggap menghalangi tujuannya melakukan revolusi. Beberapa kebijakan dibuat presiden atas dorongan kuat dari PKI antara lain pelaksanaan konsep NASAKOM (Nasional Agama Komunis), presiden seumur hidup, Pancasila diperas menjadi Trisila, kemudian Eka Sila yang intinya adalah Gotong Royong. Semua itu tentu menyimpang jauh dari Pancasila dan UUD 1945.
Titik puncak dari penyimpangan itu terpusatnya seluruh kekuasaan pada satu tangan yaitu Presiden Sukarno. Semua pihak yang terang-terangan menentangnya dibubarkan atau dipaksa membubarkan diri dan inilah yang terjadi pada Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia.
Di Masyumi ini, banyak warga Muhammadiyah yang berkiprah dalam kancah politik dan karena dibubarkan maka banyak dari mereka yang kemudian kembali aktif di Muhamamdiyah. Namun kembalinya mereka diikuti oleh penerapan kebiasaan berjuang di partai politik (pragmatis, berorientasi pada kekuasaan) yang tentunya berbeda jauh dengan semangat berjuang di Muhammadiyah. Hal tersebut berdampak pada gerak langkah Muhammadiyah yang kalau dibiarkan dapat merusak perjuangan Muhammadiyah.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah kemudian mendiskusikan ceramah KH. Faqih Usman tersebut bersama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur (HM. Saleh Ibrahim), PWM Jawa Tengah (R. Darsono), PWM Jawa Barat (H. Adang Affandi). Dari diskusi tersebut, PP Muhammadiyah kemudian membentuk tim yang terdiri dari :
  • KH. Moh. Wardan Diponingrat
  • Prof. KH. Faried Ma'ruf
  • M. Djarnawi Hadikusumo
  • Prof. Dr. Hamka
  • M. Djindar Tamimy
  • M. Saleh Ibrahim
  • Kasman Singodimejo
  • KH. Faqih Usman
Hasil rumusan tim ini kemudian dibawa ke dalam sidang Tanwir pada tanggal 25-28 November 1962 yang diselenggarakan di Jakarta. Sidang Tanwir kemudian merekomendasikan rumusan tersebut untuk dibawa ke Muktamar ke-35 pada tahun yang sama di Jakarta. Di Muktamar, rumusan tersebut diterima dengan penyempurnaan, kemudian disahkan menjadi Kepribadian Muhammadiyah. 
Kepribadian Muhammadiyah terdiri dari 4 butir yaitu :
1. Apakah Muhammadiyah itu?
2. Dasar amal usaha Muhammadiyah
3. Pedoman usaha dan perjuangan Muhammadiyah
4. Sifat Muhammadiyah  
Dalam menjawab pertanyaan "Apakah Muhammadiyah itu?" dijelaskan dalam Kepribadian Muhammadiyah bahwa Muhammadiyah adalah suatu persyarikatan yang merupakan gerakan Islam. Maksud gerakan itu ialah dakwah Islam dan amar ma'ruf nahi mungkar yang ditujukan kepada dua bidang : perseorangan dan masyarakat. Dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar pada bidang pertama terbagi kepada dua golongan yaitu kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan (tajdid), mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni. Kedua kepada yang belum Islam bersifat seruan/ajakan untuk memeluk agama Islam.
Dasar amal usaha Muhammadiyah adalah perjuangan melaksanakan usaha menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dimana kesejahteraan, kebaikan, kebahagiaan luas merata. Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya atas prinsip-prinsip yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Mhammadiyah yaitu sebagai berikut :
  1.  Hidup manusia mentauhidkan Alloh, ber-Tuhan, beribadah serta tunduk dan taat hanya kepada Alloh semata
  2. Hidup manusia adalah bermasyarakat 
  3. Hanya hukum Alloh SWT satu-satunya hukum yang dapat dijadikan sendi pembentukan pribadi utama dan mengatur tertib hidup bersama menuju kehidupan berbahadia dan sejahtera yang hakiki dunia dan akhirat
  4. Berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya hanya akan berhasil bila mengikuti jejak perjuangan Rosululloh
  5. Melancarkan amal usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi
Memperhatikan uraian di atas maka Muhammadiyah wajib memiliki dan memelihara sifat-sifatnya terutama dibawah ini :

  1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan
  2. Lapang dada, luas pandang dan memegang teguh ajaran Islam
  3. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah
  4. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan
  5. Mengindahkan segala hukum dan undang-undang, peraturan serta dasar dan falsafah negara yang sah
  6. Amar ma'ruf dan nahi mungkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh tauladan yang baik
  7. Aktif dalam perkembangan masyarakat dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam
  8. Kerja sama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya
  9. Membantu pemerintah serta bekerja sama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur
  10. Bersifat adil serta koreksi ke dalam dan keluar dengan bijaksana


Maksud dan Tujuan Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai organisasi seperti halnya organisasi-organisasi lain, tentu mempunyai maksud dan tujuan dalam pendiriannya. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah bab III pasal 6 tentang maksud dan tujuan disebutkan bahwa "Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya". 
Maksud dan tujuan didirikan Muhammadiyah di atas adalah naskah terkini, dalam sejarahnya pernah mengalami beberapa kali perubahan sejak awal berdiri sampai diputuskan dengan redaksi seperti itu. Perubahan-perubahan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pada awal berdiri

a. Menyebarkan pengajaran kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumi putra, di dalam    residensi Yogyakarta
b. Memajukan hal Agama Islam kepada anggota-anggotanya
Pada poin a ada pembatasan wilayah yang hanya meliputi residensi Yogyakarta karena saat itu, izin yang turun dari pemerintah kolonial Belanda Muhammadiyah hanya boleh didirikan di wilayah Yogyakarta, dari pengajuan ijin semula meliputi Pulau Jawa yang dipandang terlalu luas untuk sebuah organisasi yang baru berdiri.

2. Sesudah Muhammadiyah meluas ke luar Yogyakarta

a. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Belanda
b. Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam kepada sekutu-sekutunya

3. Pada era pendudukan Jepang (1942 - 1945)

Jepang mengontrol ketat semua organisasi yang ada, sehingga semua organisasi harus tunduk pada aturan Jepang, termasuk dalam dokumen dasar organisasi tidak boleh bertentangan dengan kemauan mereka. Maksud dan tujuan Muhammadiyah juga mengalami perubahan yaitu : 
a. Hendak menyiarkan agama Islam, serta melatihkan hidup yang selaras dengan tuntunannya
b. Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum
c. Hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya  
Kesemuanya itu ditujukan untuk berjaya mendidik masyarakat ramai

4. Era pasca kemerdekaan

Setelah kemerdekaan, dalam muktamar ke 31 di Yogyakarta pada tahun 1950, rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah dirubah menjadi :
"Maksud dan tujuan persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya."

5. Era Demokrasi Terpimpin

Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-34 tahun 1959 di Yogyakarta, diputuskan maksud dan tujuan Muhammadiyah yaitu :
"Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya".

6. Era asas tunggal

Pada muktamar ke-41 di Surakarta pada tahun 1985 terjadi perubahan fundamental dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah meliputi rumusan nama dan kedudukan, azas dan maksut tujuan persyarikatan. Perubahan ini dilakukan karena adanya kebijakan politik pemerintah orde baru saat itu yaitu penyeragaman azas organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan dengan azas tunggal Pancasila. Maksud dan tujuan Muhammadiyah mengalami perubahan :
"Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Alloh SWT.

7. Era reformasi

Dalam muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta tahun 2000, Islam digunakan kembali sebagai asas persyarikatan. Hal ini karena situasi politik yang berubah seiring dengan hasil sidang istimewa MPR RI yang dalam salah satu ketetapannya yaitu Tap MPR nomor XVIII/MPR/1998 yang intinya mengembalikan Pancasila sebagai dasar negara RI. Ini berarti bahwa Pancasila tidak harus dijadikan asas lembaga keagamaan, sosial kemasyarakatan maupun politik. Namun perubahan rumusan asas persyarikatan tidak diikuti oleh perubahan maksud dan tujuan, sehingga tetap sama seperti yang dirumuskan pada era sebelumnya yaitu :
"Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Alloh SWT.

Gerakan Pembaharuan Islam

A. Pengertian Pembaharuan Dalam Islam

Pembaharuan adalah istilah yang sering digunakan dalam konteks gerakan Islam modern, dikenal dengan istilah tajdid dalam bahasa Arab. yang berarti upaya-upaya yang dilakukan untuk memperbaharui kehidupan keagamaan, baik berbentuk pemikiran dan gerakan sebagai reaksi atau tanggapan terhadap tantangan internal maupun eksternal yang menyangkut keyakinan serta urusan sosial umat Islam. Secara riil pembaharuan ini berwujud upaya untuk mengajak umat Islam mempraktekkan keyakinan dan ibadah sesuai dengan tuntunan Al Qur'an serta Sunnah sebagai sumber hukum Islam, dibarengi dengan menjauhi keyakinan serta praktek ibadah yang menyimpang dari ketentuan keduanya.  
Pembaharuan juga mengacu pada term gerakan dalam dunia Islam, yang mulai muncul di era Pada masa klasik, gerakan pembaharuan sudah dirintis oleh Ibnu Taimiyah (1263 - 1328 M) yang didukung oleh muridnya yaitu Ibnu Qayyim al Jauziyah, namun gerakan yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah ini tidak mendapat sambutan yang baik di kalangan umat Islam karena pada kenyataannya pasca mereka tidak ada tokoh-tokoh lainnya yang kemudian meneruskan ide tersebut. Pada modern ini dimulai abad ke - 18 dipelopori oleh seorang tokoh dari Nejed, Arab Saudi yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab (1730 - 1791 M), kemudian dilanjutkan oleh banyak tokoh lain seperti Jamaludin Al Afghani, Rasyid Ridho, Muhammad Abduh dan lain-lain. 

B. Latar Belakang Pembaharuan Dalam Islam 

Gerakan pembaharuan dalam Islam pada masa klasik dilatarbelakangi oleh keprihatinan maraknya penyimpangan ajaran-ajaran Islam dikalangan pemeluknya. Akibat pengaruh dari berbagai keyakinan dari luar Islam yang kemudian dicampuradukkan dengan ajaran Islam secara sengaja maupun proses sosial yang bersifat jangka panjang, sehingga di kalangan umat Islam marak praktek keyakinan dan ibadah yang menyimpang. Penyimpangan-penyimpangan itu berwujud firqah/aliran-aliran yang tidak sesuai dengan pokok-pokok ajaran Islam, seperti Khawarij, Mu'tazilah, Syiah, Jabariyah, Qadariyah, tarekat-tarekat tasawuf yang menyimpang dan aliran-aliran lainnya. Dari aliran-aliran keagamaan ini muncul keyakinan dan praktek peribadahan yang menyimpang dari ajaran pokok Islam. Disisi lain secara pemahaman, di kalangan umat Islam berkembang luas sifat jumud (mandek) tidak mau belajar, menolak perubahan dan menganggap bahwa pintu ijtihad telah tertutup selamanya. Pemahaman tersebut mengakibatkan umat Islam terjebak dalam praktek-praktek keagamaan yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam, terjebak dalam mitos-mitos, takhayul dan bid'ah. 
Di era pertengahan dan modern (mulai abad ke-18), selain masih dilatarbelakangi keprihatinan terhadap penyimpangan ajaran-ajaran Islam, pembaharuan dalam Islam juga muncul dari keprihatinan terhadap kondisi sosial umat Islam yang tertinggal dibandingkan bangsa Eropa yang Nasrani. Peradaban Islam yang mundur, sementara disisi lain peradaban bangsa Eropa yang mulai maju pesat diikuti dengan penjelajahan bangsa-bangsa Eropa untuk mencari tanah jajahan dengan menyasar wilayah-wilayah yang dihuni oleh umat Islam baik di Timur Tengah, Afrika, Asia dan Amerika. 
Di kalangan umat Islam juga terjadi perpecahan yang memprihatinkan. Umat Islam tidak bisa bersatu karena perbedaan aliran, kebangsaan, wilayah dan kepentingan politik. Kemunduran peradaban, ketertinggalan dari bangsa Eropa, perpecahan dan penjajahan yang dialami umat Islam di berbagai belahan dunia oleh bangsa-bangsa Eropa mendorong beberapa tokoh untuk memikirkan nasib umat Islam secara keseluruhan. 

C. Ruang Lingkup Pembaharuan Islam

Berdasar latar belakang diatas, maka dalam wujudnya terdapat dua kecenderungan proses pembaharuan yaitu purifikasi dan reformasi.

1. Purifikasi

Pembaharuan yang bersifat purifikasi (pemurnian) adalah pembaharuan di bidang aqidah dan ibadah. Pembaharuan yang dimaksud disini bukan memunculkan hal baru dalam aqidah dan ibadah, tapi sebaliknya justru mengembalikan aqidah dan ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan asli yang terdapat dalam Al Qur'an serta Sunnah. Di kalangan umat Islam meluas praktek-praktek takhayul, kemusyrikan, bid'ah dan churofat yang semua itu mencemari aqidah, dibutuhkan upaya untuk menyadarkan umat agar kembali kepada ajaran Islam sesuai Al Qur'an dan Sunnah, disinilah upaya purifikasi menemukan bentuknya.

2. Reformasi

Pembaharuan ini melingkupi pembaharuan dalam urusan muamalah, sosial umat Islam yang meliputi semua aspek kehidupan umat tanpa terkecuali. Umat Islam mengalami ketertinggalan peradaban yang cukup jauh dari bangsa-bangsa Eropa. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada masa klasik dikuasai umat Islam, berpindah ke Eropa dan selanjutnya termasuk Amerika. Umat Islam tenggelam dalam keasyikan tasawuf, tarekat, praktek-praktek bid'ah dalam ibadah dan meninggalkan ilmu-ilmu dan urusan dunia, berorientasi kepada akhirat menutup pintu ijtihad.

Pokok-Pokok Pemikiran dan Wawasan Keagamaan KH. Ahmad Dahlan

KH. Ahmad Dahlan adalah tokoh Islam yang lebih menyukai gerakan amal dalam melaksanakan perjuangannya dan tidak meninggalkan karya-karya berupa tulisan/buku. Inilah keunikan yang dimiliki KH. Ahmad Dahlan dibanding tokoh-tokoh yang lain, keunikan yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. 
Gerakan amaliyah KH. Ahmad Dahlan menjadi kelebihan karena menjadi solusi kebutuhan mendesak umat Islam saat itu akan adanya upaya pemberdayaan umat untuk mengentaskan mereka dari kondisi kebodohan, kemiskinan dan penjajahan saat itu. Umat Islam saat itu membutuhkan pioneer perjuangan untuk keluar dari jeratan penderitaan yang dialami, meskipun perjuangan tersebut tidak bisa bersifat instan karena masih dalam kondisi terjajah. Dilain sisi, gerakan amaliyah KH. Ahmad Dahlan menjadi kelemahan terutama bagi kebutuhan generasi sekarang yang tidak bisa mengetahui secara pasti dan mendalam, bagaimana sebenarnya pemikiran-pemikiran KH. Ahmad Dahlan terhadap banyak persoalan-persoalan keumatan saat itu. Namun demikian kelemahan ini tidak mengurangi nilai perjuangan KH. Ahmad dahlan untuk umat Islam khususnya di Indonesia. 
Meski tidak meninggalkan tulisan-tulisan pemikiran, namun masih ada sedikit catatan tentang pemikiran KH. Ahmad Dahlan yang dimuat dalam dokumen naskah terbitan Hoofbestuur Taman Pustaka pada tahun 1932. Menurut Majelis Pustaka, dokumen tersebut adalah pemikiran orisinil KH. Ahmad Dahlan yang isinya adalah : 

1. Pandangan KH. Ahmad Dahlan dalam bidang aqidah sejalan dengan pandangan ulama salaf

Ulama salaf yang dimaksud disini adalah mereka yang merupakan tiga generasi pertama umat Islam terdiri dari sahabat Nabi SAW, tabi'in dan tabi'ut tabi'in (wikipedia). Ini bisa diartikan bahwa KH. Ahmad Dahlan secara rigid menganut paham yang sejalan dengan paham aqidah yang dianut oleh tiga generasi muslim awal tersebut. Paham dimaksud adalah pemahaman aqidah seperti yang tertera dalam Al Qur'an dan Sunnah, pemahaman aqidah yang murni seperti termaktub dalam dua sumber hukum Islam tersebut, tanpa pengurangan dan penambahan. 

2. Beragama adalah beramal. 

Ini mengandung arti bahwa menjalankan agama Islam itu identik dengan berkarya atau melakukan amal sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah. Dengan kata lain, menjalankan Islam itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sebatas kata-kata, termasuk mengorbankan harta, benda untuk perjuangan Islam. Inilah yang kemudian menjadi argumen pembenaran bagi langkah-langkah KH. Ahmad Dahlan yang lebih mengutamakan beramal nyata ketimbang menghabiskan waktu untuk menulis umpanya. Amal-amal yang diwujudkan oleh KH. Ahmad Dahlan selain bersifat ibadah khusus dan individual, juga amal-amal sosial untuk mengatasi persoalan-persoalan umat Islam saat itu. Di kemudian hari, amaliyah tersebut dikenal dengan istilah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berwujud antara lain panti asuhan, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, poliklinik serta rumah sakit. 

3. Dasar Hukum Islam adalah Al Qur'an dan Sunnah

Inilah dua sumber hukum utama yang dipakai oleh KH. Ahmad Dahlan dalam meletakkan dasar bagi perjuangan Muhammadiyah. Jika dalam kedua dasar hukum tadi belum diketemukan hukumnya, maka menggunakan penalaran melalui ijtihad, sedangkan ijmak dan qiyas sebagai referensi.

4. Dalam memahami Al Qur'an ditempuh 5 jalan yaitu :

a. Mengerti artinya
b. Memahami maksudnya
c. Selalu bertanya pada diri sendiri apakah larangan agama yang telah diketahui telah ditinggalkan
d. Apakah perintah agama yang dipelajari sudah dikerjakan
e. Tidak tergesa-gesa mencari ayat lain sebelum isi ayat sebelumnya dikerjakan

5. Bahwa tindakan nyata adalah wujud kongkrit dari penerjemahan Al Qur'an dan organisasi adalah wadah dari tindakan nyata tersebut. 

Untuk memperoleh pemahaman demikian, orang Islam harus selalu memperluas dan mempertajam kemampuan akal pikiran dengan logika

6. Sesuai dengan dasar pemikiran bahwa seseorang itu perlu suka dan bergembira, maka orang tersebut harus yakin bahwa mati adalah bahaya, akan tetapi melupakan kematian adalah bahaya yang jauh lebih besar dari kematian itu sendiri.


7. Kunci persoalan kehidupan adalah peningkatan kualitas hidup dan kemajuan yang sedang berkembang dalam tata kehidupan masyarakat

8. Pembinaan generasi muda (kader) dengan jalan interaksi langsung


9. Strategi menghadapi perubahan sosial akibat modernisasi adalah merujuk kembali kepada Al Qur'an, menghilangkan sikap fatalisme dan taqlid. 



Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam

Muhammadiyah dalam pengertian secara bahasa maupun istilah sudah pasti menunjukkan jati diri sebagai organisasi Islam. Tanpa perlu diteli...